Tantangan Ekosistem Profesi Arsitektur di Wilayah Periferal

Studi Kasus NTT

Authors

  • Elsa Bessie Universitas Kristen Petra, Surabaya, Indonesia Author
  • Rony Gunawan Sunaryo Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, Indonesia Author
  • Bramasta Putra Redyantanu Universitas Kristen Petra, Surabaya, Indonesia Author

DOI:

https://doi.org/10.9744/acesa.v8i2.00152

Keywords:

Ekosistem Profesi, Arsitek, Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA), Lisensi, Wilayah Periferal

Abstract

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekosistem profesi arsitek di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui artikulasi hubungan antara kapasitas tata kelola pendidikan arsitektur dan tingkat konversi profesionalisasi arsitek teregistrasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif makro yang diintegrasikan dengan evaluasi matriks SWOT secara objektif, penelitian ini mengintegrasikan data dari BPS, PDDikti, dan IAI yang divalidasi melalui teknik triangulasi dokumen. Hasil temuan menunjukkan terjadinya kesenjangan struktural yang masif: Rasio Profesionalisasi di NTT sangat rigid dan hanya mencapai 0,45% dari total ekosistem praktisi (lulusan dan anggota asosiasi), sementara Rasio Pelayanan Arsitek tercatat sebesar 1:112.200 penduduk. Ketimpangan ini diperparah oleh ketiadaan program pendidikan profesi (PPAr) lokal di NTT, yang menciptakan bottleneck geografis dan memicu fenomena brain drain lulusan terbaik ke wilayah pusat (core). Dampak lanjutannya, keterbatasan jumlah pemegang Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) domestik serta belum terbitnya instrumen Lisensi oleh Pemerintah Provinsi menyebabkan pasar proyek konstruksi formal berskala besar di NTT rentan didominasi oleh arsitek luar daerah. Penelitian ini menyimpulkan adanya fragmentasi jalur profesi (broken professional pipeline). Sinergi kelembagaan tripartite antara DAI, IAI, dan APTARI mendesak dilakukan untuk merkayasa penguatan ekosistem melalui penyelenggaraan PPAr berbasis hybrid/online, skema beasiswa ikatan dinas, serta optimalisasi jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) demi melindungi kepentingan publik dan iklim praktik arsitek lokal.

 

Abstract:

This study examines the professional architecture ecosystem in East Nusa Tenggara (NTT) by analyzing the relationship between architectural education governance and the conversion rate of registered architects. Using a macro descriptive quantitative approach, secondary data from BPS, PDDikti, and IAI were analyzed through an objective SWOT matrix and documentary triangulation. Findings reveal a structural gap, with a professionalization rate of only 0.45% and an architect-to-population ratio of 1:112,200. The absence of a local Professional Architecture Education Program (PPAr) creates a geographic bottleneck that may contribute to brain drain toward Java. Combined with the limited number of STRA holders and the absence of localized Provincial Licenses, this condition may increase dependence on external architects in NTT’s formal construction market. The study identifies a broken professional pipeline and recommends tripartite synergy between DAI, IAI, and APTARI through hybrid/online PPAr, service-bond scholarships, and Recognition of Prior Learning (RPL) to strengthen the local professional ecosystem.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abbott, A. (1988). The system of professions: An essay on the division of expert labor. The University of Chicago Press. https://doi.org/10.7208/chicago/9780226189666.001.0001

Adhimastra, I. K. (2014). Arsitektur dan pendidikan arsitektur. Jurnal Anala, 2(1). https://ejournal.undwi.ac.id/anala/article/view/177

Agustina, M., Minaka, U. S., & Kamil, A. I. (2025). Peningkatan pengetahuan siswa sekolah tentang program studi dan profesi arsitek melalui simulasi profesi. Jurnal Abdimas Mandiri, 9(3), 497–504. https://doi.org/10.36982/jam.v9i3.6170

Beine, M., Docquier, F., & Rapoport, H. (2008). Brain drain and human capital formation in developing countries: Winners and losers. The Economic Journal.118(528), 631–652. https://doi.org/10.1111/j.1468-0297.2008.02135.x

Badan Pusat Statistik. (2025). Jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin, 2025. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/WVc0MGEyMXBkVFUxY25KeE9HdDZkbTQzWkVkb1p6MDkjMw%3D%3D/jumlah-penduduk-menurut-kelompok-umur-dan-jenis-kelamin.html?year=2025

Ching, F. D. K. (2023). Architecture: Form, space, and order (5th ed.). John Wiley & Sons.

Daymond, J., Knight, E., Rumyantseva, M., & Maguire, S. (2023). Managing ecosystem emergence and evolution: Strategies for ecosystem architects. Strategic Management Journal, 44(4), 01–027. https://doi.org/10.1002/smj.3449

Dwiyanto, A. (2008). Arsitek profesional dan perannya dalam dunia kerja. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman, 7(1). https://eprints.undip.ac.id/20141/

Evans, P. (2002). Collective capabilities, culture, and Amartya Sen’s development as freedom. Studies in Comparative International Development. 37(2), 54-60. https://doi.org/10.1007/BF02686261

Ferial, R., Rhamadana, V., Syukur, M., Junaidi, A., & Nurhamidah. (2023). Kajian kebutuhan SDM arsitektur Indonesia dan kelayakan pendidikan arsitektur. Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia, 12(3), 124–133. https://doi.org/10.32315/jlbi.v12i3.79

Ghaffarzadegan, N., Xue, Y., & Larson, R. C. (2017). Work-education mismatch: An endogenous theory of professionalization. European Journal of Operational Research, 261(3), 1085–1097. https://doi.org/10.1016/j.ejor.2017.02.041

Hendra, Deni, Karsono, B., Iqbal, M., & Fahrizal, E. (2023). Pengenalan profesi arsitek pada masyarakat pelajar kota Lhokseumawe. Mejuajua: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3(2), 52–57. https://doi.org/10.52622/mejuajuajabdimas.v3i2.104

Hendri, Chaniago, R. E., Shidqi, R. D., Ramli, D. P., & Rahdiansyah, R. (2023). Pengaturan praktek layanan profesi arsitek atas arsitek ilegal di provinsi Riau. Mizan: Jurnal Ilmu Hukum, 12(2), 144–149. https://doi.org/10.32503/mizan.v12i2.4476

Ikatan Arsitek Indonesia. (2025). Direktori IAI. https://iai.or.id/direktori-iai

Ivancheva, M., & Syndicus, I. (2019). Introduction. Learning and Teaching. 12(1), 1–16. https://doi.org/10.3167/latiss.2019.120101

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (n.d.). PDDIKTI: Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Retrieved December 15, 2025, from https://pddikti.kemdiktisaintek.go.id/

Lucas, R. E. B. (2005). International migration and economic development: Lessons from low-income countries. Edward Elgar Publishing.

Moores, E., & Burgess, A. P. (2024). Financial support differentially aids retention of students from households with lower incomes: A UK case study. Studies in Higher Education, 49(1), 220–231. https://doi.org/10.1080/03075079.2022.2125950

Purnamasari, D. R., Aprizio, I. K. G. M., Putra, K. J. A., Widanan, I. W., & Utari, C. I. A. C. (2021). Publikasi karya arsitektur sebagai strategi pemasaran bagi konsultan arsitektur. Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa, 9(S1), 149–155. https://ejurnal.warmadewa.ac.id/index.php/undagi/article/view/4307

Ramadhan, B. G., Wulandari, S., Alallah, M. A., & Raditya, M. H. B. (2023). Arsitektur sebagai tantangan industri di dunia bisnis. Mozaik : Journal of Art and Architecture, 1(2), 89–97.

Republik Indonesia (2017). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek. https://peraturan.bpk.go.id/Details/37643/uu-no-6-tahun-2017

Downloads

Published

2026-09-27